SELAPIS KRISTAL CINTA IBU
Oleh Domin
Dalam daun-daun mutiara
Aku melihat kasih ibu mengapung tinggi...
Suap tanganmu menempel di bibir
Ibu...
Masih hangat dalam otakku
Subur melati suci yang engkau basahkan
Di ubun-ubun kepala
Tangisan kau balas dengan senyuman
Jeritanku kau balut dekapan
Kemarahanku kau lukis dengan kebijakan
Melihat itu aku semakin terharu ibu,,,
Aku merasa seperti ranting-ranting kecil
Tapi ibu menebarkan sapuan-sapuan cinta hati
Senandung batu
Takkan membuatku mengabaikanmu
Sungguh ibu...
Ibu memang tak butuh balas
Tapi aku bukan srigala gunung yang ganas
Yang tak punya nurani dan hati
Aku adalah kristal salju yang butuh perlindungan
Aku adalah putik bunga yang butuh anyaman
Ibu, tahun ini aku ingin mengecupmu
Tapi ke'inginanku hanyalah asa
Ibu telah bahagia disana
Bersama senyuman manis bidadari
Aku hanya bisa merangkai do'a dan menabur wangi melati
Ibu...
Aku mencintaimu
Dan selalu merindukanmu
Takkan pernah ku lupakan
Tulus selapis kristal cinta ibu
Oleh Domin
Dalam daun-daun mutiara
Aku melihat kasih ibu mengapung tinggi...
Suap tanganmu menempel di bibir
Ibu...
Masih hangat dalam otakku
Subur melati suci yang engkau basahkan
Di ubun-ubun kepala
Tangisan kau balas dengan senyuman
Jeritanku kau balut dekapan
Kemarahanku kau lukis dengan kebijakan
Melihat itu aku semakin terharu ibu,,,
Aku merasa seperti ranting-ranting kecil
Tapi ibu menebarkan sapuan-sapuan cinta hati
Senandung batu
Takkan membuatku mengabaikanmu
Sungguh ibu...
Ibu memang tak butuh balas
Tapi aku bukan srigala gunung yang ganas
Yang tak punya nurani dan hati
Aku adalah kristal salju yang butuh perlindungan
Aku adalah putik bunga yang butuh anyaman
Ibu, tahun ini aku ingin mengecupmu
Tapi ke'inginanku hanyalah asa
Ibu telah bahagia disana
Bersama senyuman manis bidadari
Aku hanya bisa merangkai do'a dan menabur wangi melati
Ibu...
Aku mencintaimu
Dan selalu merindukanmu
Takkan pernah ku lupakan
Tulus selapis kristal cinta ibu
By ameu
SUARA HATIKU
Oleh Domin Rohan Laek
Oleh Domin Rohan Laek
Mentari datang dan pergi,haripun terus berganti dan waktupun terus berlalu
tapi aku masih selalu ada di tempat ini
disini aku merasa risih
Keadaan ini masih terus sama dari dulu tak ada satupun yang berubah dari ini
apa dan bagaimana aku sekarang ini,masih selalu sama seperti dulu
tak satupun kebahagiaan yang ku dapat
hanya kesedihan serta kepahitan hidup yang kualami
Rasa ini kian menghimpit ruang gerakku,
aku semakin terkekang dengan keadaan ini,
aku bingung dan hampir putus asa hadapi ini semua
Mengapa kebencian selalu bersemayam dalam atap hidupku?
mengapa kekerasan selalu ada di tempat ini?
dan mengapa pulah air mata tak pernah ada habisnya?
Semakin aku melawannya,maka aku semakin rapuh
semakin aku bertahan dengan keadaan ini,semakin berkecamuk emosi ini
aku benci semua ini
Ini hanya mimpi buruk dan kiamat dalam hidupku
aku ingin keluar dari keterpurukkan ini
aku ingin lari dan teriak sekuat mungkin agar semesta tahu
bahwa aku dan hanyalah aku yang tersiksa
yang sekarat pada muka bumi ini
Tidak dia,tidak kamu,tidak mereka
bahkan bukan siapa-siapa
kecuali aku dan hanya aku seorang.

puisi ini di buat disaat hari ulang tahun ke 27 maka saya menulis karya ini dalam sepanjang sejarah
BalasHapus